Kaisar Bizantium menabur benih fitnah dan
mengucar-kacirkan barisan tentara Islam. Usaha Sultan Murad II tidak berhasil
sampai pada zaman anak beliau, Sultan Muhammad Al-Fatih (Mehmed II), sultan
ke-7 Daulah Utsmaniyyah.Semenjak kecil, Sultan Muhammad Al-Fatih telah
mencermati usaha ayahnya menaklukkan Konstantinopel.
Bahkan beliau mengkaji usaha-usaha yang pernah dibuat
sepanjang sejarah Islam ke arah itu, sehingga menimbulkan keinginan yang kuat
baginya meneruskan cita-cita umat Islam. Ketika beliau naik tahta pada tahun
855 H/1451 M, dia telah mulai berpikir dan menyusun strategi untuk menawan kota
tadi. Kekuatan Sultan Muhammad Al-Fatih terletak pada ketinggian pribadinya.
Sejak kecil, dia dididik secara intensif oleh para ulama terulung di zamannya.
****
Kalau saja Mehmed II hidup kembali dan melihat kondisi
pemuda saat ini, mungkin ia sudah geleng-geleng kepala tak habis pikir. Ah,
betapa kualitas kita dan dirinya terbentang amat jauh!
Saat kebanyakan pemuda berumur 21 tahun sudah angkat
dagu, bangga bisa taklukkan hati wanita, Muhammad Al-Fatih sudah mampu
taklukkan Konstantinopel!
Saat para pemuda bersenang-senang habiskan umur 8
tahunnya dengan menghafal lagu-lagu orang dewasa, Muhammad Al-Fatih sudah
hafalkan seluruh ayat Al-Quran dalam kepalanya.
Saat para pemuda masih bingung dengan mimpinya, tidak
tahu akan jadi apa, "let it flow" katanya, Muhammad Al-Fatih sudah
bertekad dengan lantang sejak kecil,
"Ayah, aku ingin menaklukkan Konstantinopel!"
Tekadnya tidak berakhir dengan teriakan lantang saja.
Muhammad Al-Fatih memiliki visualisasi mimpi yang teramat jelas. Sejak kecil ia
bersama ayah dan gurunya sudah memandang Benteng Byzantium dari atas bukit.
“Nak, benteng itu yang akan kau taklukkan nanti"
seru Sang Ayah.
Muhammad Al-Fatih bahkan memiliki ruangan khusus berisi
miniatur Konstantinopel, lengkap dengan peta dan strategi perang. Betapa ia
tidak main-main dengan mimpinya.
Saat para pemuda begitu mudah mengeluh, merasa punya
segudang masalah dan tekanan hidup, lalu menganggap hidupnya akan berakhir sia
sia, Muhammad Al-Fatih sudah dibebankan amanah yang begitu besar bahkan sejak
ia lahir ke dunia.
Ia menjadi tumpuan harapan tiga generasi akan takluknya
konstantinopel, janji Allah Swt yang diucapkan Rasuulullaah SAW ratusan tahun
silam. Ia menjadi harapan dari 6 abad perjuangan para pendahulu.
Bayangkan! Harapan 600 tahun perjuangan para pendahulu
dibebankan pada pundaknya!
Ah, tapi sedikitpun ia tak gentar, tak mundur barang
sejengkal!
Saat para pemuda habiskan waktunya untuk
bersenang-senang, menonton film, nongkrong berjam-jam, Muhammad Al-Fatih
memilih tingkatkan kemampuan fisik dan mengisi otaknya. Ia kuasai teknik bela
diri, memanah, berkuda, berenang, strategi berperang, Ilmu fiqh, hadits,
astronomi, dan matematika. Ia juga menguasai banyak bahasa; Arab, Turki,
Persia, Ibrani, Latin, dan Yunani.
Saat para pemuda dengan mudah hancur mentalnya ketika
direndahkan atau dihina orang lain, Muhammad Al-Fatih punya hati seluas
samudera, mental sekuat baja. Tak terhitung berapa banyak orang yang
merendahkannya saat ia diangkat menjadi Raja pada umur 19 tahun. "Bocah ingusan!" , cela orang.
Musuh dan lingkaran orang kerajaan meremehkan
kemampuannya. Kerajaan musuh menyerang saat tahu Muhammad Al-Fatih diangkat
menjadi sultan. Tapi ia lebih memilih memberikan bukti nyata.
Saat para pemuda habiskan air matanya untuk kekasih hati
yang tidak jelas, Muhammad Al-Fatih memilih habiskan air matanya untuk memohon
ampunan dan panjatkan harapan.
Sejak baligh, tak pernah satu malam pun ia lewatkan salat
Tahajjud. Ialah Pedang Malam, yang selalu diasah dengan tulus ikhlas.
Saat para pemuda lupa dan meninggalkan Tuhan, "Nanti
saja kalau sudah tua" , fikirnya, Muhammad Al-Fatih tak sekalipun pernah
meninggalkan Allah dalam tiap urusannya.
Ia miliki 250.000 pasukan yang tak sekalipun meninggalkan
shalat wajib. Ia laksanakan shalat Jumat sebelum menyerang Konstantinopel.
Shalat yang shaffnya terpanjang dalam sejarah, 4 km membentang dari Pantai
Marmara hingga Selat Golden Horn di utara! Gema takbir bersahutan,
menggetarkan, menjadi semangat saat menggempur lawan!
Saat para pemuda kehabisan cara dan ide-ide cemerlang
untuk meraih mimpinya, Muhammad Al-Fatih tak kehabisan cara, bahkan yang
menurut orang lain gila.
Yang ia hadapi ialah Benteng Byzantium! Dibatasi laut
dengan pagar rantai besi, terbuat dengan teknologi terhebat pada zamannya, tak
mampu ditembus selama 11 abad.
Kokohnya Benteng Byzantium tak membuat Ia kehilangan
akal. Tak bisa menyeberangkan 70 kapal lewat laut, ia lumurkan minyak pada
ratusan gelondongan kayu, lalu jalankan seluruh armada kapal melintasi bukit
hanya dalam satu malam!
Allahu Akbar!
Pagi hari menjelang, musuh kaget bukan kepalang. Benteng
Byzantium yang selama 11 abad tak terhancurkan, hari itu telah mampu ditembus!
Merekalah yang Rasulullaah ﷺ
sebut dengan sebaik-baik pemimpin dan sebaik-baik tentara,
“Konstantinopel akan jatuh di tangan seorang pemimpin
yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan rakyatnya
sebaik-baik rakyat.”
Lalu saat ini, kita sadar akan bentang yang amat jauh
antara kualitas pemuda saat ini dan di zaman Muhammad Al-Fatih.
Ada jurang pemisah yang terpampang dengan nyata. Kita
juga sadar akan ketinggalan yang amat jauh. Oleh karena itu, kita harus
mengejar itu semua dengan kerja keras dan kesungguhan.
"Kaki anak Adam tidaklah bergeser pada hari Kiamat
dari sisi Rabbnya sehingga ditanya tentang lima hal;"
"Tentang umurnya untuk apa dia habiskan, tentang
masa mudanya untuk apa dia pergunakan, tentang hartanya dari mana dia peroleh
dan kemana dia infakkan dan tentang apa yang telah dia lakukan dengan
ilmunya." (HR. Tirmidzi)
Kelak masa muda akan dimintai pertanggungjawabannya.
Mereka yang memberi manfaat yang akan kekal, namanya abadi tercatat di bumi dan
langit.
“Adapun buih itu, akan hilang sebagai sesuatu yang tak
ada harganya; adapun yang memberi manfaat kepada manusia, maka ia tetap di
bumi. Demikianlah Allah membuat perumpamaan-perumpamaan.” (QS. Ar-Raa'd:17)
Kiriman dari Jamaah Majelis Percikan Iman (MPI)
Sumber : www.percikaniman.org









0 comments:
Post a Comment